Value Engineering

Society Of American Value Engineer (SAVE) menyebutkan Value Engineering (VE) sebagai teknik aplikasi pendekatan untuk menidentifikasi fungsi suatu produk atau jasa dan untuk mengembangkan fungsi tersebut pada biaya rendah. Carlos Fallon mendefinisikan Value Engineering sebagai metode untuk meningkatkan nilai produk dengan meningkatkan hubungan antara fungsi produk dan biayanya.

Value Engineering diimplementasikan melalui proses rasional yang sistematis yang meliputi [David DeMarle, 1995]:

  1. Fungsi analisis untuk mendefinisikan keberadaan barang/komponen tersebut.
  2. Teknik kreatif dan spekulatif untuk membuat alternatif baru.
  3. Teknik pengukuran untuk evaluasi nilai sekarang dan konsep yang akan datang.

Tujuan dari Value Engineering adalah untuk mengukur nilai suatu produk (quality, performance, dan reliability), pada tingkat biaya yang dapat diterima dan untuk mengeliminasi aspek yang tidak menambah nilai produk [R. J. Park, 1998]. Nilai produk disini didefinisikan sebagai perbandingan antara kepentingan (Importance) atau keberatian (worth) produk dengan biaya (cost) produk tersebut.

Value Engineering secara umum dapat digunakan untuk [David DeMarle, 1995]:

  1. Menentukan bagian produk/proses yang membutuhkan perhatian dan perbaikan.
  2. Mengembangkan metode pembentukan ide dan alternatif untuk solusi yang mungkin tentang suatu permasalahan.
  3. Mengembangkan evaluasi alternatif.
  4. Meningkatkan nilai produk/jasa.

Proses Value Engineering dibagi atas 7 fase utama yang berurutan tahapannya, yaitu:

  1. Tahap Informasi (Information Phase)
  2. Tahap Analisa (Analysis Phase)
  3. Tahap Kreatif (Creative Phase)
  4. Tahap Evaluasi (Evaluation Phase)
  5. Tahap Pengembangan (Development Phase)
  6. Tahap Presentasi (Presentation Phase)
  7. Tahap Implementasi (Implementation Phase)

Ungkapkan pendapat Anda